OPERATIONALIZING THE ESSENTIAL ROLE OF THE INFORMATION TECHNOLOGY ARTIFACT IN INFORMATION SYSTEM RESEARCH: GRAY AREA, PITFALLS, AND THE IMPORTANCE OF STRATEGIC AMBIGUITY

OPERATIONALIZING THE ESSENTIAL ROLE OF THE INFORMATION TECHNOLOGY ARTIFACT IN INFORMATION SYSTEM RESEARCH: GRAY AREA, PITFALLS, AND THE IMPORTANCE OF STRATEGIC AMBIGUITY

Introduction
Bidang IS menghadapi suatu tantangan dalam menentukan karakterisik inti dari riset IS serta dalam mendefinisikan perbedaannya dengan riset pada bidang lain. Hal ini merupakan krisis identitas dalam riset IS. Orlikowski dan Iacono mengidentifikasi IT artifact sebagai komponen inti dalam riset IS. Benbasat dan Zmud berusaha mendefinisikan riset mana yang relevan terhadap IT artifact untuk mengklarifikasi identitas disiplin IS, yaitu dengan mengajukan immediate nomological net atas IT artifact. Menurut mereka, riset yang berada di luar immediate nomological net tidak sesuai untuk dipublikasikan di jurnal IS papan atas. Hal ini menimbulkan perdebatan yang akhirnya
berkembang menjadi dukungan atau penolakan terhadap konsep IT artifact dan immediate nomological net. Beberapa diantara mereka yang sedikitnya mendukung ide atas identitas kumpulan dari bidang IS menunjukkan perhatian
bahwa IT artifact dan identitas bidang IS merupakan konsep yang berkembang sehingga batasan dari riset IS berubah-ubah mengikuti perkembangan. Penulis akan fokus pada isu-isu yang berada di tingkat operasional yang mungkin muncul jika ide-ide yang sudah ada digunakan untuk mendefinisikan batasan dari riset IS. Penulis berargumen jika beberapa dari isu tidak ditangani dengan hati-hati, dapat mengarah pada konsekuensi negatif.
Menurut penulis, terdapat sekumpulan riset dalam jumlah besar yang relevansinya terhadap IT artifact menjadi bahan perdebatan bahkan diantara mahasiswa IS yang mendukung peran pokok dari IT artifact. Kumpulan riset ini
disebut gray area. Penulis akan mengklarifikasi konsep gray area melalui contoh dan akan membahas karakteristik riset yang masuk ke dalam gray area ini. gray area pada bidang IS lebih luas daripada pada bidang lain yang sudah dewasa karena inovasi dalam IT dan hubungan bisnisnya masih berkembang dengan pesat. Dua prinsip krusial dalam mendukung perilaku riset IS yang bersifat inovatif muncul dari kesadaran penulis atas adanya gray area. Pertama, kriteria operasional untuk relevansi riset terhadap IT artifact harus dedinisikan dengan hati-hati untuk mencegah pembatasan atau perluasan bidang IS secara berlebihan. Kedua, kebijakan berupa strategi ambiguitas terhadap isu relevansi riset merupakan hal yang krusial untuk mengupayakan riset IS yang inovatif dan menguntungkan untuk mengembangkan bidang IS. Penulis mendefinisikan strategi ambiguitas sebagai keputusan yang hati-hati dan eksplisit dari editorial untuk mencegah terjadinya penolakan paper gray area dari jurnal IS hanya karena isu relevansi yang belum selesai.

Gray-Area Research

Bidang IS telah membuat kemajuan yang signifikan dalam menentukan apa yang termasuk ke dalam jurnal IS. Namun, peneliti IS masih sering menghadapi topik riset yang relevansinya ambigu. Berusaha untuk memberi daftar lengkap dari penyebab ambiguitas bukanlah hal yang bijak karena mereka berkembang bersama dengan argumen-argumen teoritis.
Two Examples of Gray-Area Research

Menghasilkan perdebatan bukanlah satu-satunya pertanda dari riset yang termasuk ke dalam gray area. Penulis memberikan dua contoh yang cukup jelas mengenai topik riset dengan gray area. Yang pertama melibatkan artifak
teknologi yang sangat sulit diklasifikasi masuk ke bagian mana. Kedua, saat artifact IT memainkan peranan penting, topik riset sudah mengakar dalam bidang akademik lainnya yang sudah berdiri cukup lama. Setidaknya salah satu dari
karakteristik ini muncul untuk mengidentifikasi gray area. The Important Yet Neglected Gray Area Sebuah gray area muncul ketika menentukan relevansi riset dari banyak disiplin akademik, karena tidak ada disiplin yang dibatasi secara mutlak. Ada dua alasan mengapa kita perlu mengarahkan secara khusus pada disiplin IS. Pertama, gray
area pada bidang IS lebih luas dari kebanyakan disiplin lain yang telah matang. Kedua, gray area secara historis telah menjadi sumber dari riset yang inovatif dan relevan. Pitfalls in Operationalizing the Essential Role of the IT Artifact in
IS Research Dalam mengevaluasi riset terhadap relevansinya dengan IT artifact diperlukan adanya perhatian yang besar. Kurangnya perhatian dapat menyebabkan masalah yang disebut sebagai pitfall, yaitu suatu anggapan yang terlihat benar, namun sebenarnya salah. Penulis menyajikan tiga pitfall, yaitu:
Pitfall 1: The Essence of a Set of Criteria for Research Relevance Can Easily and Consistently Extend to the Gray Area
Dengan menggunakan esensi dari kumpulan kriteria, para reviewer dan editor dapat mengevaluasi relevansi dari riset pada gray area. Namun, penggunaan esensi ini juga harus hati-hati walaupun kumpulan kriteria tersebut dapat diterima dengan baik oleh semua peneliti karena peneliti yang berbeda dapat mengoperasionalisasikan esensi yang sama dengan cara yang berbeda.
Pitfall 2: More Freedom Means Fewer Gray-Area Limitations
Hal ini memberikan kebebasan bagi peneliti untuk membentuk pandangannya sendiri terhadap gray area, sehingga justru sebenarnya membatasi jangkauan topik riset IS. Hal ini karena area dari topik riset yang secara umum disepakati oleh komunitas IS semakin sempit.
Pitfall 3: Not Addressing the Gray Area Will Not Worsen the Signs of Breakup from Within
Kumpulan kriteria yang tidak mengarah pada gray area nampakya tidak menimbulkan masalah karena tidak memihak pandangan kelompok peneliti tertentu. Namun, tidak adanya definisi gray area menyebabkan
peneliti membentuk pandangannya sendiri yang akhirnya menimbulkan kelompok-kelompok dengan pandangannya masing-masing. Hal ini dapat berpotensi menimbulkan perpecahan diantara kelompok-kelompok
tersebut.

Implications of the Pitfalls
Dari pitfall tersebut, terdapat implikasi-implikasi yang muncul, yaitu:

  1. Semua kumpulan kiteria yang memiliki ambiguitas terhadap gray area seharusnya mengidentifikasi masalah ini secara eksplisit.
  2. Perancang kumpulan kriteria seharusnya memberikan alas an kepada komunitas riset mengapa aspek tertentu dari kriteria memang diperlukan untuk ambigu.
  3. Ukuran gray area dapat diperkecil apabila kumpulan kriteria tersebut didefinisikan dengan baik.Strategic Ambiguity and Innovative IS Research

Terdapat empat pilihan ketika terdapat riset yang berkualitas tinggi, namun berada pada gray area:
1. Menolak riset tersebut pada jurnal IS.
2. Memperbaiki kumpulan kriteria sehingga relevansi riset dapat ditentukan.
3. Meninggalkan isu gray area pada editor dan reviewer.
4. Menerima riset pada jurnal IS.

Strategic ambiguity Strategic ambiguity menyimpulkan bahwa jawaban terbaik adalah dengan tidak membuat jawaban yang spesifik. Dua komponen dalam strategic ambiguity yaitu menghindari penilaian yang bersifat menghakimi dan kebijakan yang jelas mengenai apa yang akan dimasukkan ke dalam jurnal IS. Strategic ambiguity menetapkan sebuah batasan untuk isu yang membagi riset yang tidak relevan dari gray area.
An Author’s Responsibility
Tidak ada yang dapat mengetahui lebih baik suatu paper kecuali penulis paper tersebut. Oleh karena itu, merupakan tanggung jawab penulis untuk menunjukkan relevansi riset yang dilakukannya.
Strategic Ambiguity Encourages Innovative IS Research
Inovasi sering tidak dapat diprediksi dalam teknologi maupun bisnis bahkan seorang ahli pun dapat mempunyai opini yang salah mengenai dimana inovasi yang menguntungkan akan muncul. Tidak ada yang tahu bagian mana dari gray
area yang pada akhirnya menghasilkan riset IS yang inovatif. Oleh karena itu, satu-satunya cara untuk mendukung riset yang inovatif yaitu dengan membuka bidang pada semua riset pada gray area.
Strategic Ambiguity Complements Efforts to Establish an IS Identity
Strategic ambiguity tidak mengurangi usaha untuk membangun indentitas IS yang kuat untuk alasan-alasan berikut:

  • Strategic ambiguity hanya mempengaruhi gray area. Riset yang benarbenar tidak relevan dengan IT artifact akan tetap tidak dimasukkan ke dalam jurnal IS.
  • Relevansi dari riset gray area tidak disetujui namun tidak juga ditolak.
  • Kualitas dari paper riset harus berkualitas tinggi sebelum diterima melalui strategic ambiguity.

Concluding Remarks
Paper ini membahas keberadaan dan implikasi dari gray area pada riset IS. Mengabaikan gray area dapat menimbulkan dampak negatif terhadap karakteristik inovatif dari riset IS. Solusi yang diajukan adalah menerapkan
strategic ambiguity, dengan bersikap terbuka terhadap riset gray area. Merupakan nilai yang besar bagi mahasiswa IS untuk mengeksplorasi diskusi ini secara menyeluruh termasuk gray area dan implikasinya karena secara potensial
akan membentuk arah dari bidang IS pada beberapa tahun mendatang.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s